Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2014

Kecewa ini Sudah Cukup

source.net Mungkin aku tak cukup ramah menanggapi pesan masuk yang temanku berikan. Dengan ketus aku hanya menjawab, “Nah”. Tak ada basa-basi sedikitpun. Mungkin temanku bertanya-tanya atau malah dia sudah tahu, atau mungkin dia lupa, aku sedang kecewa. Nah, melihat hasil KPU yang telah mengumumkan pemilu presiden tahun ini, hasilnya tak sesuai harapan. Ya, capres dan cawapres dukunganku kalah. Meski sampai detik ini dari semua kandidat aku hanya mengidolakan Pak Hatta, tetap saja rasa kecewa itu tentu ada. Kecewa karena Pak Hatta gagal melaju sebagai wakil presiden, kecewa karena hasil real count KPU yang ternyata menunjukkan Jokowi-JK pemenangnya, kecewa karena lagi-lagi Pak Hatta yang kuidolakan tak hadir dalam pengumuman KPU tadi. Bagiku, ini rasa kecewa melihat idola tak sesuai keinginan. Penilaianku memang tidak objektif. Tapi kekecewaan ini timbul karena rasa keinginan yang teramat dalam untuk melihat idolaku menang sebagai wapres. Aku membuka mata, tak menu

Komitmen 3 Jari

Yakinkan langkah meski awalnya ragu Bermodal niat dan terus maju meski tak cukup ilmu Sempat ingin mundur karena terhalang izin Ortu Tapi sekarang semuanya berlalu berganti lembaran baru Hari ini menjadi aku yang baru Berawal 3 jari di atas kertas hvs dan pulpen biru Celupkan tanda 3 jari berwarna merah di atas tulisanku Memunculkan harapan di atas pundakku Bisa apa aku setelah setahun berlalu Mengingat apa yang telah diberipun aku ragu Aku masih belum banyak tahu Tapi akan kukejar sampai berilmu Tak ingin banyak janji takut tak dapat berkomitmen penuh Bukan juga sudah berencana ingin setengah laju Semua yang kulakukan kujalani sungguh-sungguh Semua yang kudapat kujaga erat penuh Sekarang saatnya membagi waktu Jangan sampai ini itu terabaikan dan tak tersentuh Komit disana disini jangan sampai ragu-ragu Jalani satu-satu keberhasilan kan menunggu Rasa senang haru bercampur jadi satu Semangat itu sudah menunggu Terima kasih telah

Terlelap Terabaikan Tugas

Dini hari dingin masih menyelimuti Mata ini masih terkantuk-kantuk Mencoba melawan kantuk Apa daya kelopak berusaha terus menutup Mencoba membelalak Kantuk ini semakin kuat Ingin berbaring pada bantal dan guling Teringat tugas dan harus menghadapi UAS Akhirnya kumemilih untuk menulis saja Daripada tidur tugas terabaikan Setidaknya masih ada jejak untuk merekam Menggambarkan rasa kantuk yang teramat dalam Dengan tenaga seadanya Tubuh tetap di depan layar Sambil diselimuti dingin dan bersandarkan bantal Semoga tugas dan ujian berhasil kukerjakan Dan bukan sekadar mimpi dan khayalan belaka

Belajar itu Tiada Henti

Aku butuh belajar. Aku yang dalam hal ini seorang wanita pelupa dan pemalu. Pendiam dan penyabar. Susah sekali mengingat sesuatu, susah pula melupakannya. Sesuatu itu akan selalu kuingat jika saja terjadi berulang-ulang. Jika hanya sekali, dengan gampangnya ingatan itu tak ada lagi.  Aku sedang belajar. Hari yang lalu, di sebuah ruang di salah satu tempat. Aku belajar berhari-hari meski hari itu sudah memasuki hari tenang. Ketenanganku memang saat berada di ruang itu. Aku mengingat, membaca, mengetik dan akhirnya dikritik ketika sampai pada tahap editing.  Hingga salah satu kakak berkata, “Aku juga dulu tulisannya kaya gini.”  Hm, renungku sejenak langsung tahu arti kalimat di atas. Menyindir, mengkritik, mencela. Bagiku itu semua memang sinonim.  Kenapa kata di atas tidak diganti dengan, “Aku juga dulu tulisannya kaya gitu.” Lebih enak kalimat kedua jika menurut pandanganku.  Namanya juga proses belajar. Tapi belajar di sini sudah hampir setahun lamanya dan kemampua