Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label #Kampus

Teguran dari Dosen

dok. pribadi (ilustrasi ruangan kelas) “Ngantuk itu alamiah, saya memakluminya -- kata dosen Jurnalistik Media Elektronik” Sore hari terik matahari mengintip ke sela-sela jendela di ruang 4. Mata kuliah Jurnalistik Media Elektronik menjadi mata kuliah terakhir sore itu. Materi pengambilan gambar menjadi materi yang hanya sekadar menonton video. Ruangan gelap tiap kali video diputarkan. Hanya suara dari video tahun 2000-an dengan visual yang bisa terbayangkan betapa jadul dan membosankannya video yang diputar. Tak perlu menunggu pemutaran sampai selesai. Beberapa kali pemutaran, sudah cukup membuat mata ini sudah tak bisa lagi menahan godaan untuk pergi ke alam bawah sadar. Ya, ngantuk. Dan... tiba-tiba saja begitu lampu dinyalakan, saya tak lagi mendengar suara dosen yang sedang menjelaskan. Perasaan saya masih tertinggal di ruang kelas, tapi pikiran dan bayangan sudah pergi tak berjejak menyusuri mimpi-mimpi yang baru saja akan terjelajahi. Tiba-tiba... “Iya saya tahu, n...

Kelompok Baru

kiri ke kanan (Alip, Triana, Kiki, Trirahma, Lintang, Ratna)   Sebelum melihat foto itu, aku tak pernah berkeinginan untuk menulis ini. Tapi sekarang aku terjebak dalam kelompok bermain yang menyenangkan. Kawan. Sudah hampir dua tahun aku kuliah di jurusan yang katanya paling favorit se-kampus sosial beralmamater kuning. Bertemu, bermain, belajar, sudah pernah kulakukan dengan 99 orang teman-teman ku yang satu per satu rontok tak menikmati jurusan favorit ini. Sudahlah, yang penting aku masih bertahan tak ingin mengecewakan biaya yang sudah dikeluarkan ibunda. Sekarang aku berada diujung pengakhiran semester 4. Setelah minggu depan UAS, tentunya aku  berada di semester 5. Yang ingin kujadikan sebagai inti tulisan ini adalah menyoal kawan. Setelah aku resapi, rupanya kawanku berbeda-beda dari semester1 hingga kini semester 4. Lihat foto di atas? Itu adalah kawanku yang mulai dekat sejak semester 2. Kenapa? Karena kebanyakan jadwal kuliah kami yang sama. Padahal sem...

Lintang

“Rambutnya keriting. Badannya mungil. Marganya Silalahi. Kelahiran Betawi. Entah mengapa, teman yang paling dikangenin” Liburan semester 3 telah berakhir. Di hari kedua perkuliahan, kampus sepi. Kuliah pun cuma perkenalan, kontrak belajar dan pulang. Ah, masih kah seperti ini, membosankan sekali. Teman-teman pun belum pada hadir. Bangku yang terlihat belum separuh terisi. Dan di pagi tadi, terlihat kelas B keluar menuruni tangga saat aku baru saja akan masuk kelas A. “Tri...” Diam sejenak. Pandangan menuju tangga yang dituruni seorang bercelana jins biru dan baju putih. “Tanggg..” Badanku berbalik dan berlari ke arah tangga. Berpelukan... tingkah pertama yang kami lakukan. Tak sadar ada adik angkatan di belakang ingin dipeluk juga, Arif, eh. Tak peduli adik angkatan, kami lepas kangen dengan tingkah demikian. Seakan tak ingin lepas, berpelukan sampai berputar. Ya, dia temanku. Lintang panggilannya. Ciri-cirinya seperti tadi di atas. Kami hanya benar-benar satu kelas di sem...

Aku (dalam) Puncak Somasi

Dalam riuhnya massa, aku menepi. Aku tau ibuku di dalam, dan aku di luar. Dan hari ini, ketika semua berkumpul, bersatu, aku menepi. Menepi dari rombongan pejalan kaki mahasiswa baru 2014 yang menolak UKT. Dan aku menepi untuk sekadar mendapatkan gambar dari aksi ini. Tapi aku berada dalam lingkungan massa itu. Tapi orang lain tak melihat kronologis ceritaku. Ya, aku dianggap memalukan, mencemarkan nama baik dan membuat onar. Ah, siapa aku sampai bisa dianggap seperti itu? Aku anak unsoed. Dan ibuku pun unsoed. Maka aku dianggap bagian dari unsoed pun bagian dari mahasiswa. Aku dalam puncak somasi hari ini. Tak ada berita yang mampu kutulis. Pulang pun ketika massa baru sampai di depan gedung. Wawancara pun belum sampai korlap. Aku belum dapat data apa pun. Tapi ibu melihat. Karena kawannya yang melihatku. Padahal aku menepi. Disuruhnya pulang, aku pulang. Aku dalam puncak somasi. Tak tahu apa-apa hari ini. Impianku mengejar berita besar, pupus. Aku tak berhasil ...

Jadi Santri 3 Hari

Aku tak pernah merasakan tinggal di lingkungan pesantren. Tapi hari itu membuatku merasa menyelami lebih dalam lautan Islami di IPT J Siapa sangka niatku untuk mengikuti UKI masih berlanjut hingga kini menjadi tentor. Namun aku sedikit beruntung atau malah satu-satunya pengurus yang hoki. Betapa tidak, selama aku menjadi pengurus, aku sama sekali tak pernah mengikuti satu pun rangkaian persyaratan menjadi pengurus, seperti magang dan mengikuti IPT. Mengikuti IPT itu wajib bagi pengurus, lah aku udah sejauh ini eh sama sekali belum pernah ikut IPT. Apa si IPT itu? IPT kepanjangan dari Islamic Personality Training bahasa singkatnya tekad (training kader). Karena aku sudah menjadi pengurus, justru ini menjadi beban jika aku belum mengikuti IPT. Nah, tanpa pikir panjang akhirnya mengikuti IPT susulan bareng maba 2014 kulakukan. Aku ngga berpikir kalo nanti disana aku paling tua, atau aku paling krik krik. Untungnya ada temen yang ngajakin sesama 2013 Ani, jadi ya ayo cus iku...

Lagi dan Lagi

Sekali menonton, pertandingan dah bubar Dua kali menonton, pertandingan dibatalkan dan berujung kalah WO Ketika mau masuk sekre, segerombolan laki-laki bahkan ada yang cenglu membawa serta drum dan toa. “Mau ada pertandingan ya?”, tanyaku. “Iya kak, rektor cup,” jawab maba. “futsal apa?” “bukan kak, sepak bola di Gor Soesoe.” Wah ada pertandingan bola. Pengin nonton, batinku menggerutu. Ketika loncat ke dalam sekre, aku lihat Tri temanku berada di depan sekre. “Nonton bola yuk?” ajakku. “Ayo, kamu bawa motor?” tanya Tri. “Yah tapi aku ngga ada motor yaah,” jawabku. “Eh kan ada motor Caca, pake motor Caca yuk?,” “Ayoo.” Cusss langsung menuju Gor Soesilo Soedarman yang berada di kampus belakang. Wiih... girangnya aku, akhirnya nonton pertandingan sepak bola. Ngga kepikiran bakal terjadi suatu apa pun, kaya yang semester silam. Pas udah ke gor eh yang lain malah pada turun gara-gara pertandingan udah bubar. Nah kali ini kan aku berangkatnya bareng supor...

Eval Perdana

Yang ada hanya mata yang sayu dengan kepala tertunduk... Tulisan pertama di media buletin kampus, awalnya membuatku sedikit agak merasa bangga. Namaku tercantum dengan lengkap tanpa nim, dan disitu menunjukkan akulah pembuatnya. Ya, mungkin bagi orang awam tahunya itu tulisanku. Murni hanya aku yang membuat. Tapi bagi kalangan persma tentu tahu yang namanya editing dan segala macam perubahan yang dilakukan oleh redpel dan pimrednya.  Dan bagiku hal tersebut tak membuatku agak bangga, tapi masih ada sedikit. Siangnya terbit, malamnya evaluasi. Eval dari selama proses pembuatan media buletin tersebut. Banyak yang dibahas lebih tepatnya banyak yang perlu diperbaiki. Balik lagi karena namaku tercantum sebagai penulis berulang kali ditanya perasaan mengenai hasil tulisan di media tersebut. Ingin rasanya tak usah bercerita, cukup dengan ekspresi saja. Kepala tertunduk melihat banyak kekurangan di tulisan tersebut. Kepala tertunduk karena hasil tulisan belum enak dibaca dan cen...

Tentang Ambisi

Rasanya tidak adil ketika yang lain bisa ambil dan segelintir orang harus mengalah dan terpinggir Rasanya semuanya salah Atau malah ingin menyalahkan. Entah itu sistem, entah itu orangnya, entah itu jadwalnya. Tapi ketika disana melarang disini mendorong dan aku di tengah-tengah Ingin kedua-duanya tapi tetap harus memilih diantaranya. Akhirnya aku memutuskan. Ketika ambisi ditahan dan logika berjalan Setidaknya sesuai jalan yang ditetapkan dan tidak berniat menambahnya. Karena yang terpenting bukan ambisi ingin cepat terpenuhi Tapi niat dan jalani untuk meningkatkan indeks prestasi. Aamiin

Expo UKM Luar Biasaaaa

Siang yang terik tak menjadikan semangat para penggawa UKM surut. Bermodal tikar atau karpet seadanya mereka menggelar expo sepanjang jalan di dalam kampus. UKM dan HMJ berlomba-lomba menarik minat mahasiswa baru untuk ikut berorganisasi. Tampak wajah-wajah bingung para maba ketika mereka memasuki jalan yang digunakan untuk stand UKM dan HMJ. Berbekal pengarahan dari kaka pendamping mereka menyusuri jalan sambil sesekali mampir di stand-stand yang ada. Teriakan dari teman-teman UKM dan HMJ mewarnai riuhnya suasana siang tadi. Semoga para mahasiswa baru sudah bisa menentukan pilihan akan kemanakah mereka melabuhkan kreativitasnya. Berawal dari expo siang ini semoga dapat melanggengkan sekumpulan organisasi kampus yang ada. Dan menjadikannya berprestasi di samping prestasi akademik.  

Pendamping Terakhir

“Terakhir mengenal kalian keceriaan yang kudapat Terakhir memandang wajah kalian, aku pendamping (terakhir) kalian ....” Sehari mengenal kalian bukan waktu yang lama agar aku bisa menuliskan kenangan ini. Ya, hanya sehari dapat apa aku dari kalian mahasiswa baru kelompok 72? Dapat banyak. Banyak kebahagiaan dan keceriaan lebih tepatnya. Terimakasih gaesss yang telah menerimaku sebagai pendamping kelompok ini. Meski aku sejatinya bukan bagian dari seleksi pendamping ospek univ. Tapi sikap ramah teman-teman maba membuatku langsung nyaman mendampingi kelompok ini. Sejujurnya aku tak paham tugas pendamping ospek univ apa saja. Aku tak mengerti jadwal dan peraturan dalam ospek ini. Bermodalkan niat dan kemauan untuk menjadi pendamping pengganti, aku siap. Siap untuk mengospek teman-teman maba Sabtu lalu. Tak pernah terbayangkan berdiri di tengah-tengah kalian menyampaikan materi ospek dan mencairkan suasana. Bukan tugas mudah, apalagi sifatku yang pendiam dan pemalu membu...

Upacara Perdana Mahasiswa Biasa

“Sebagai mahasiswa yang tak mendapat beasiswa, tidak berprestasi dan tidak mengikuti BEM Universitas, upacara menjadi sesuatu yang langka” source.net Sudah lama tak mengikuti upacara, termasuk upacara peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia. Maklum sebagai mahasiswa yang masih dibilang newbie , upacara menjadi sesuatu yang langka jika mereka tidak aktif dalam organisasi. Termasuk saya. Seorang mahasiswa angkatan tahun lalu yang sekarang diminta untuk menghadiri upacara sebagai perwakilan dari mahasiswa yang mengikuti co-trainer. Sebagaian civitas akademika mungkin merasa malas untuk menghadiri sebuah upacara. Hanya mengharapkan agar daftar hadir terisi, dengan terpaksa mereka mengikutinya. Ya, hanya daftar hadir yang mereka kejar bukan kekhidmatan upacara yang menjadi tujuan utama. Upacara sejatinya menjadi momen penghormatan warga negara, bagi para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan negeri ini di masa lampau. Berapa lama kita berdiri untuk sebuah pengh...

Komitmen 3 Jari

Yakinkan langkah meski awalnya ragu Bermodal niat dan terus maju meski tak cukup ilmu Sempat ingin mundur karena terhalang izin Ortu Tapi sekarang semuanya berlalu berganti lembaran baru Hari ini menjadi aku yang baru Berawal 3 jari di atas kertas hvs dan pulpen biru Celupkan tanda 3 jari berwarna merah di atas tulisanku Memunculkan harapan di atas pundakku Bisa apa aku setelah setahun berlalu Mengingat apa yang telah diberipun aku ragu Aku masih belum banyak tahu Tapi akan kukejar sampai berilmu Tak ingin banyak janji takut tak dapat berkomitmen penuh Bukan juga sudah berencana ingin setengah laju Semua yang kulakukan kujalani sungguh-sungguh Semua yang kudapat kujaga erat penuh Sekarang saatnya membagi waktu Jangan sampai ini itu terabaikan dan tak tersentuh Komit disana disini jangan sampai ragu-ragu Jalani satu-satu keberhasilan kan menunggu Rasa senang haru bercampur jadi satu Semangat itu sudah menunggu Terima kasih telah ...

Terlelap Terabaikan Tugas

Dini hari dingin masih menyelimuti Mata ini masih terkantuk-kantuk Mencoba melawan kantuk Apa daya kelopak berusaha terus menutup Mencoba membelalak Kantuk ini semakin kuat Ingin berbaring pada bantal dan guling Teringat tugas dan harus menghadapi UAS Akhirnya kumemilih untuk menulis saja Daripada tidur tugas terabaikan Setidaknya masih ada jejak untuk merekam Menggambarkan rasa kantuk yang teramat dalam Dengan tenaga seadanya Tubuh tetap di depan layar Sambil diselimuti dingin dan bersandarkan bantal Semoga tugas dan ujian berhasil kukerjakan Dan bukan sekadar mimpi dan khayalan belaka

Belajar itu Tiada Henti

Aku butuh belajar. Aku yang dalam hal ini seorang wanita pelupa dan pemalu. Pendiam dan penyabar. Susah sekali mengingat sesuatu, susah pula melupakannya. Sesuatu itu akan selalu kuingat jika saja terjadi berulang-ulang. Jika hanya sekali, dengan gampangnya ingatan itu tak ada lagi.  Aku sedang belajar. Hari yang lalu, di sebuah ruang di salah satu tempat. Aku belajar berhari-hari meski hari itu sudah memasuki hari tenang. Ketenanganku memang saat berada di ruang itu. Aku mengingat, membaca, mengetik dan akhirnya dikritik ketika sampai pada tahap editing.  Hingga salah satu kakak berkata, “Aku juga dulu tulisannya kaya gini.”  Hm, renungku sejenak langsung tahu arti kalimat di atas. Menyindir, mengkritik, mencela. Bagiku itu semua memang sinonim.  Kenapa kata di atas tidak diganti dengan, “Aku juga dulu tulisannya kaya gitu.” Lebih enak kalimat kedua jika menurut pandanganku.  Namanya juga proses belajar. Tapi belajar di sini sudah hampir seta...

Selamat Datang

Di waktu malam yang tak panjang ini, singkat cerita aku akan memasuki dunia baru. Dunia yang menjadi dambaanku. Keinginanku tercermin di sana. Banyak tantangan di depan. Pertama berhasil kuhadang, kedua berhasil menghindar, ketiga mencoba melawan, keempat belajar bertahan, kelima inilah saatnya mengejar impian. Setiap orang pasti punya mimpi. Tak jarang mimpi kita akan berlawanan dengan orang di sekitar, bahkan dengan diri kita sendiri. Mimpiku tetap menjadi milikku. Selamanya akan kugenggam. Tak akan dan tak ingin kulepas. Meski berat dan harus bertahan selagi masih dalam proses. Proses untuk mengejar mimpi. Sebentar lagi aku ingin ada ucapan “selamat datang” dalam dunia baru. Dunia mimpiku yang memasuki langkah pertama. Perjalanan masih panjang, aku berusaha akan kunikmati semua. Kunikmati prosesnya. Kujalani langkahnya. Semoga aku bisa!

Sayang, Aku Tak Bersama Mereka

Happy holiday teman-teman...!!! Wah senangnya, Sabtu yang panas ini kalian sedang liburan. Aku menulis ini di rumah. Hm.. tapi tak apa, aku ikut senang meski tak dapat merasakan liburan bersama kalian. Sayang sekali, rencana yang sudah kutunggu-tunggu harus dibatalkan. Alasannya tak oke pula, jadi tak usah diperjelas yaa. Bagiku kalian sudah seperti saudara, ada kakak, saudara sepantara, dengan pribadi yang berbeda-beda tapi pastinya unik dan baik. Beruntung sekali bisa mengenal dan akrab dengan kalian. Semua sama semua saudara bagiku. Ingin liburan ini bisa terulang lagi dan aku harus ikut di dalamnya. Bukan seperti saat ini aku tak ada di tengah-tengah kalian. Mungkin kalian menganggapnya biasa saja, tapi aku nyesel karena tak bisa hadir di liburan ini. Judulnya kan liburan, harusnya semua merasakan asiknya liburan. Aku harap kalian semua merasakan itu, meski aku tak ada di saat peristiwa libur ini. Semoga tulisan ini menjadi pengobat keinginanku yang tak bi...

Ponsel di Kalangan Pelajar SD

Ketika bel istirahat berdering anak-anak SD dengan sigap beranjak dari tempat duduk dan mulai pergi ke kantin untuk membeli jajan sekedar mengisi perut mereka. Sembari membawa es potong dan cemilan anak-anak SD mulai bermain. Mereka biasa bermain di depan halaman sekolah yang cukup luas. Permainan apakah itu? Entah masih ada yang mengenal atau tidak anak SD zaman sekarang dengan permainan  gobak sodor. Eitss... itu dulu, kalau sekarang? Bukan hal baru bagi anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar dengan suatu benda yang mudah untuk dibawa, besarnya hanya setelapak tangan orang dewasa. Ya! Itu adalah handphone yang biasa kita sebut HP. Peraturan “dilarang membawa HP ke sekolah” seolah menjadi peraturan kedaluwarsa dan ketinggalan zaman. Ketika saya SMP peraturan dilarang membawa HP berkamera masih ada, namun saat ini selang tak sampai 5 tahun semua HP sudah berkamera, kalau masih ada peraturan yang demikian sudah pasti 99% akan dilanggar siswanya hehehe. Keca...