Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label #GaleriKeluarga

Cerita Munggahan

  Ada yang berbeda dari munggahan tahun ini. Jika tahun lalu masih di tempat kerja, bersama rekan kerja di jam kerja, maka tahun ini tak ada lagi ajakan dari tempat kerja. Aku sudah menjadi ibu rumah tangga selama kurang lebih 7 bulan. Lalu siapa yang akan mengajak aku untuk munggahan atau sekadar ke luar rumah? Jawabannya Suami. “Kita munggahan berdua aja yuk” begitu ajakannya. Sebenarnya ajakan itu juga diawali dari pertanyaanku pada suami yang menanyakan kapan acara munggahan di kantornya. Waktu itu suami jawab belum tau karena belum ada yang mengajak. Aku timpali dengan jawaban, “Sama, aku juga ngga ada yang ngajakin munggahan lagi.” Lalu dijawablah seperti di atas. Selesai obrolan itu, selang beberapa hari suami meminta ijin bahwa teman-temannya mengajak munggahan di Hari Rabu minggu depan. Kenapa meminta ijin padaku? Jawabannya karena acara itu hanya untuk rekan kerja dan tidak diperbolehkan mengajak keluarga. Acaranya juga di sela-sela jam kerja. “Mas udah nanyai...

Cerita Lulus Bukan Karena Corona

Dapat hadiah tabungan pendidikan Adikku, yang dulu minder karena masuk SMA di pinggiran kota, tengah sawah, bukan unggulan, kali ini lulus SMA bukan karena corona. Dia membayar tuntas tiga tahun sekolah di sana, sebelum pengumuman kelulusan sudah diterima di dua perguruan tinggi, bukan hanya itu, karena rajin mengikuti sekolah online, tahu-tahu dapat hadiah pula. Akhir yang manis menuju awal yang indah. Dulu, awal SMA dia selalu mengeluh karena menurutnya 'terbuang' di SMA pinggiran. Tidak seperti teman-teman SMP nya yang masuk sekolah di perkotaan. Dia menyesal kenapa nilai UN tak memenuhi standar masuk SMA pilihannya. Dia murung setiap ditanya asal SMA, dia selalu pake jaket untuk menutupi almamater SMA nya. Tapi aku memotivasinya dengan sedikit bualan di  tulisan ini Tak disangka, adikku pendengar yang baik. Kataku kala itu, bukan dari mana kamu berasal tapi bisa jadi seperti apa di mana pun tempatnya. Ya, dia memang pendengar yang baik dan tidak menyia-nyiakan ...

Ketika Ibu Melakukan Tindakan Preventif Part II

Anak ibu ada empat. Semuanya perempuan. Sekali ada teman laki-laki yang main ke rumah, ibu bertanya, “itu siapa, anak mana, ada perlu apa, temen yang mana, temen sekolah, temen kelas, temen main, apa temen temenan?” Part I bisa dilihat di sini : Ketika Ibu Melakukan Tindakan Preventif Begitu kali ya kelak kalau punya anak semuanya perempuan. Betapa sangat dijaga dan hati-hatinya seorang ibu menyayangi anak-anak perempuannya.  Kalau dulu cerita part I itu tentang saya, kali ini tindakan preventif yang ibu lakukan untuk adik perempuan pertama saya. Dia masih SMA, cantik jelita, pinter banget pula. Kurangnya satu, nggak bisa naik motor.  Tiap hari bapak/ ibu kudu antar jemput ke sekolah yang jaraknya 6 km lebih. Suatu hari, bapak nggak bisa nganterin karena keluar kota. Ibu bisa anter tapi nggak bisa jemput karena masih kerja. Nah, ijinlah adik saya untuk pulang sekolah bareng temannya –cowo. Sekali nganterin, ijin diberikan. Eh ternyata keterusan. Alasannya...

Menjadi Sulung yang (di)Manja

Saya hidup dalam kemanjaan yang diberikan oleh ibu. Entah itu membuat saya jadi beruntung atau justru membuat saya jadi tumpul. Beruntung karena tak semua anak akan mendapatkan semua yang diinginkan tanpa perlu bersusah payah. Tumpul karena saya menjadi kurang peka melihat keadaan di sekelilingnya. Bayangkan ketika semua yang kamu butuhkan telah ibu sediakan tanpa perlu meminta. Bayangkan ketika kamu meminta saat itu juga ibu akan mengabulkan. Itulah model perlakuan ibu yang ibu ajarkan pada anak-anaknya. Anak ibu ada empat. Saya anak kedua yang saat ini melakoni tugas sebagai anak pertama - sebab mba saya sudah menikah. Saya masih memiliki dua adik yang jaraknya enam tahun dan lima belas tahun. Apakah terdapat perlakuan berbeda? Yang saya rasakan tidak ada. Berlakon sebagai anak sulung nyatanya saya tetap dimanjakan dengan dipenuhi segala kebutuhan. Hampir-hampir saya tak ingin sambat apa pun terhadap apa pun sebab ibu telah memberikan yang terbaik dalam seg...

Ketika Ibu Melakukan Tindakan Preventif

Kali ini saya akan bercerita bagaimana ibu melakukan tindakan preventif dalam banyak hal, seperti: 1. Ngga boleh keluar lebih dari jam 9 malam 2. Ngga boleh pergi nonton berdua sama laki-laki 3. Ngga boleh pergi berdua sama laki-laki yang belum ibu kenal 4. Bebas pergi sampai jam berapa pun, kemana pun, dengan siapa pun yang penting judulnya bersama TEMAN. Selain tentang pertemanan, ibu juga selalu melakukan tindakan preventif dalam hal: 5. Selalu sedia mantel di motor minimal dua, tak peduli cuaca panas dingin kemarau hujan gerimis mendung atau terang benderang. 6. Selalu pake jaket ketika berkendara, jangan lupa kancing jaket sampai menutup leher. 7. Harus selalu pakai helm meskipun pergi cuma berapa meter. 8. Selalu isi bensin jika sudah dua setrip. 9. Jangan lupa pintu rumah selalu dikunci, meski cuma ditinggal mandi. 10. Tidur ngga boleh pakai headset.   Namanya tindakan preventif, tujuan ibu melakukan hal itu tentu saja untuk mencegah hal-hal...

Jangan Kecualikan Kontak Ibu

Apa yang kamu lakukan jika ibu kamu ternyata aktif di media sosial dan punya semua akun medsos. Kepikiran hidden tiap stories dari kontak ibu? Kepikiran sembunyikan foto-foto yang diposting di instagram? Kepikiran kecualikan kontak ibu untuk status facebook, whatsapp, dan instagram? Atau, membiarkan ibu menjadi teman dan mengawasi setiap postingan anaknya? (pasti yang ini jarang dilakukan). Sebagai remaja yang masih berada pada fase alay barangkali postingan anak-anaknya tidak cocok dilihat oleh ibu. Kalau pun bukan remaja yang alay, mungkin saja status anaknya cenderung bikin ibu cenut-cenut karena tak paham dengan yang anaknya tulis. “Kok tulisannya pakai simbol-simbol?” (padahal emoticon) atau “Kamu jangan ikut-ikutan aliran radikal.” (padahal saya yang doktrin mereka haha) Ketimbang ibu banyak tanya, mending sembunyikan saja. Barangkali seperti ini yang dilakukan banyak remaja. Mengikuti perkembangan zaman, tentu orang tua yang gemar bermain ...

Adik Paling Ambisius Sedunia

si Cantik baru terima rapor Bibit-bibit ambisius si Adek sudah terlihat sejak SD kelas satu. Waktu itu ketika sedang menata buku di tasnya, si Adek nyeletuk begini, Chika   : Mba, Chika kalo kelas dua mau jadi ketua kelas lah Mbak   : Kenapa si Chika   : Chika ngga suka sama ketua kelas yang sekarang, masa ketua kelas harusnya kan ngatur temen-temennya biar tertib eh malah ikutan lari-larian. Kan udah ditunjuk bu guru buat nyatetin temennya yang rame, malah ketua kelasnya ikut-ikutan rame, Chika jadi sebel. Pokoknya besok kalo Chika udah kelas dua mau jadi ketua kelas. (Setelah mendengar penjelasan panjang lebar, jawaban mbaknya) Mbak   : Ohiya, bagus lanjutkan. Another story... Ketika kelas dua, si Adek yang habis merengek minta dibelikan sepeda ternyata punya motivasi tersendiri alasan ingin bisa naik sepeda. Chika   : Asik Chika dibeliin sepeda sama ibu Mbak   : Ya sana latihan Chika ...

Gegoleran

contoh gegoleran Cerita gegoleran ini terinspirasi dari sepasang ibu dan anak. Mendekati akhir pekan biasanya percakapan ibu dan anak ini selalu berulang membicarakan hal yang sama, gegoleran. Apa itu gegoleran ? Berikut kisahnya. Si Anak bangun tidur jam9 pagi. Mengucek mata, rambut acak-acakan, barangkali liur masih tersisa di pipi kanannya. A : "Ibu kok ngga bangunin?" I   :"Ngga apa-apa ini kan hari libur," A : "Yaudah," anak ini berlalu dan pergi mandi. Selesai mandi, muka segar, rambut wangi keramas, dan sedikit makeup cuma sekadar bedak tabur memenuhi wajahnya. Beringsut sarapan. Tak disangka kantuk kembali datang. Masuk kamar mencoba main hp tapi ternyata alam mimpi lebih menggiurkan ketimbang stalking instagram calon gebetan. Lelap. Bangun lagi jam 11. Langsung ngecek hp berniat mengajak main teman-teman seperjuangan sepernasiban seperjombloan. Dan janji main di luar berhasil dibuat. Melihat ibu di depan kamar sedang berm...

Untukmu yang Merasa Masuk Ruang Biasa-Biasa Saja

Bukan dari mana kita berasal, tapi bisa jadi seperti apa di mana pun kita berada Ketika sedang makan, sudah biasa adik saya berceloteh dengan sendirinya panjang lebar. Mulai dari hubungan pertemanannya sampai merembet ujung-ujungnya ke sekolahnya. Adik      : “Si itu kan udah satu geng, si A, si B, si C, sama si D . Udah temenan dari SD, eh masuk SMA juga samaan. Sama-sama masuk SMA yang bagus padahal nilai biasa-biasa aja,” Saya      : “Hust, biarin aja. Bukan dari mana kamu berasal, tapi bisa seperti apa kamu di mana pun berada,” Adik      : “Ih.. kaka ia bagus banget quotenya. Maksudnya gimana tuh?” Saya      : “-__- “ Dari percakapan singkat itu bisa tergambarkan adik saya yang lagi iri sama teman-temannya yang bisa masuk SMA favorit. Maklum sekolahan adik saya letaknya di pinggir sawah. Bukan di kota, benar-benar bukan sekolah incaran. Tahun ajaran baru yang kemarin saja bahkan ...

Bahagiaku di Hari Itu

Ketika aku ragu, hampir tak ada senyum apalagi menuju bahagia, disitu aku bersyukur mengenal, berbagi dan ditemani kalian, rekan tersolidku. Tak pernah aku meminta apa pun pada mereka yang saat ini sedang berjuang bersama. Hanya ketika tujuan kami masih sejalan sajalah, kita tetap satu dan sama. Namun, 23 Desember 2016, ijinkan aku menulis berdasarkan asumsi pribadi bukan atas dasar organisasi. Ya, karena kali ini aku ingin mengucapkan terimakasih sebagai teman bukan sebagai rekan. Ketika ada yang rela meluangkan waktunya, menunda kepulangannya untuk mudik ke kampung halaman. Ketika ada yang rela meluangkan waktunya, bersedia membantu dokumentasi yang memang tanpa disiapkan sebelumnya namun ia serius melakukannya. Ketika ada yang rela meluangkan waktunya, rehat dari aktivitas pekerjaan demi hari itu yang hanya sekali barangkali dalam hidupku, hidupmu, dan hidup kalian. Ketika ada yang rela meluangkan waktunya, berangkat sedari pagi dengan angkutan umum demi dan hanya untuk...

Penemuan Singkat

Percakapan di tengah makan siang ini menghasilkan penemuan singkat versi adikku “Mba basa inggrise angka 1 sampe 10 ngga ada huruf a ne loh..” Makan siang. Mba ku yang baru pulang jemput adiku membawa 4 bungkus bakso. Selesai lepas sragam pramuka ganti kaos oblong, kita makan bersama di ruang tengah. Di tengah-tengah santapan, adiku yang masih SMP ini bergurau... “Mba basa inggrise angka 1 sampe 10 ngga ada huruf a ne..” Terus aku mikir sambil liat bahasa Inggris angka-angka dari 1 sampe 10 kepunyaan adiku yang masih balita. “Eh iya yaa.. lah terus kabeh angka sampe berapa pun dong..?” “Iya sampe berapa pun. One hundred.. nine hundred.. eh tousen si ada a ne ngga mba?” “Eh ana.. thousand. T-h-o-u-s-a-n-d. Berarti huruf a ngga ada dalam basa inggris sampe angka nine hundred ninety nine (999) ya..?” “Iyaa...” “ahahahhahahaha” ketawa kami meledak. Bakso yang baru ditelan tak terasa jadi bakso terakhir penutup percakapan siang ini. Percakapan singkat di tengah makan si...