Langsung ke konten utama

Postingan

Sepak bola kenapa rusuh?

source.hooligan Jika ada pertanyaan seperti itu, pasti yang suka bola ngga ngrasa kalo mereka rusuh. Eitzz aku juga suka bola tapi aku ngga rusuh. Nah loh baru dibilang hihi. Tapi antara suporter badminton dan bola sering timbul gesekan masalah kerusuhan dan ketertiban. Antara prestasi dan ambisi. Ya, bola dianggap rusuh, ricuh dan ambisius. Sedangkan badminton dianggap tertib, fanatik dan berprestasi. Ya, bisa dilihat lah berapa sering suporter bola yang rusuh menyebabkan nyawa diantaranya melayang. Berapa sering antar pemainnya pun tak luput dari baku hantam. Apa karena mereka semua laki-laki? Ah tidak juga. Di negara lain sepak bola perempuan pun sudah banyak. Bandingkan dengan badminton. Apa pernah antar suporter rusuh? Sekalipun lawan negara tetangga yang ada paling nyanyian ejekan, ngga mungkin sampe lempar-lemparan botol air mineral. Ngga mungkin sampe menyalakan kembang api di dalam ruangan. Lah iyalah di dalam ruangan kok berkobar-kobar ya kebakar hihi. Bal...

Aku (dalam) Puncak Somasi

Dalam riuhnya massa, aku menepi. Aku tau ibuku di dalam, dan aku di luar. Dan hari ini, ketika semua berkumpul, bersatu, aku menepi. Menepi dari rombongan pejalan kaki mahasiswa baru 2014 yang menolak UKT. Dan aku menepi untuk sekadar mendapatkan gambar dari aksi ini. Tapi aku berada dalam lingkungan massa itu. Tapi orang lain tak melihat kronologis ceritaku. Ya, aku dianggap memalukan, mencemarkan nama baik dan membuat onar. Ah, siapa aku sampai bisa dianggap seperti itu? Aku anak unsoed. Dan ibuku pun unsoed. Maka aku dianggap bagian dari unsoed pun bagian dari mahasiswa. Aku dalam puncak somasi hari ini. Tak ada berita yang mampu kutulis. Pulang pun ketika massa baru sampai di depan gedung. Wawancara pun belum sampai korlap. Aku belum dapat data apa pun. Tapi ibu melihat. Karena kawannya yang melihatku. Padahal aku menepi. Disuruhnya pulang, aku pulang. Aku dalam puncak somasi. Tak tahu apa-apa hari ini. Impianku mengejar berita besar, pupus. Aku tak berhasil ...

Jadi Santri 3 Hari

Aku tak pernah merasakan tinggal di lingkungan pesantren. Tapi hari itu membuatku merasa menyelami lebih dalam lautan Islami di IPT J Siapa sangka niatku untuk mengikuti UKI masih berlanjut hingga kini menjadi tentor. Namun aku sedikit beruntung atau malah satu-satunya pengurus yang hoki. Betapa tidak, selama aku menjadi pengurus, aku sama sekali tak pernah mengikuti satu pun rangkaian persyaratan menjadi pengurus, seperti magang dan mengikuti IPT. Mengikuti IPT itu wajib bagi pengurus, lah aku udah sejauh ini eh sama sekali belum pernah ikut IPT. Apa si IPT itu? IPT kepanjangan dari Islamic Personality Training bahasa singkatnya tekad (training kader). Karena aku sudah menjadi pengurus, justru ini menjadi beban jika aku belum mengikuti IPT. Nah, tanpa pikir panjang akhirnya mengikuti IPT susulan bareng maba 2014 kulakukan. Aku ngga berpikir kalo nanti disana aku paling tua, atau aku paling krik krik. Untungnya ada temen yang ngajakin sesama 2013 Ani, jadi ya ayo cus iku...

Lagi dan Lagi

Sekali menonton, pertandingan dah bubar Dua kali menonton, pertandingan dibatalkan dan berujung kalah WO Ketika mau masuk sekre, segerombolan laki-laki bahkan ada yang cenglu membawa serta drum dan toa. “Mau ada pertandingan ya?”, tanyaku. “Iya kak, rektor cup,” jawab maba. “futsal apa?” “bukan kak, sepak bola di Gor Soesoe.” Wah ada pertandingan bola. Pengin nonton, batinku menggerutu. Ketika loncat ke dalam sekre, aku lihat Tri temanku berada di depan sekre. “Nonton bola yuk?” ajakku. “Ayo, kamu bawa motor?” tanya Tri. “Yah tapi aku ngga ada motor yaah,” jawabku. “Eh kan ada motor Caca, pake motor Caca yuk?,” “Ayoo.” Cusss langsung menuju Gor Soesilo Soedarman yang berada di kampus belakang. Wiih... girangnya aku, akhirnya nonton pertandingan sepak bola. Ngga kepikiran bakal terjadi suatu apa pun, kaya yang semester silam. Pas udah ke gor eh yang lain malah pada turun gara-gara pertandingan udah bubar. Nah kali ini kan aku berangkatnya bareng supor...

Sekelebat Tulisan

Ada yang lagi nunggu tulisanku nih, eciyee akhirnya ada yang baca haha. Sebenarnya banyak tulisan yang masih aku simpan dalam laptop dan belum sempat terposting. Hal ini karena kegiatan rapat dan perkuliahan yang membuatku melupakan waktu untuk membuka blogger.com hehe. Padahal si ngga sibuk. Cuma lupa aja buka alamat itu, seringnya langsung buka trianawd.blogspot.com. Halah apalah intermeso di atas. Harusnya tulisanku sedikit agak lumayan bermanfaat eh ini malah postingan tanpa tema asseeeek. Yang penting namanya posting kan? Judulnya aja sekelebat, jadi kusudahi saja tulisan ini. Semakin banyak nanti semakin terpesona, dipending dulu deh auranya buat tulisan-tulisan selanjutnya. Hahaha Sekian J

Menyoal Pekerjaan

“ketika memutuskan untuk berhenti, maka kesempatan tidak datang dua kali...” source.net Apa itu pekerjaan? Kerja adalah suatu kesempatan bagi kita untuk menimba lebih dari sekadar ilmu, di dalamnya ada pengalaman dan yang terpenting di gaji. Kerja adalah suatu kesempatan. Dimana dari jutaan orang yang mengharapkan pekerjaan hanya sepernya saja yang berhasil mendapatkan pekerjaan sesuai di bidangnya, mendapatkan pekerjaan serabutan, dan mendapatkan pekerjaan karena turunan (bapaknya bos ya anaknya ngikutin). Dan sisanya mereka pengangguran. Kerja tak semua orang bisa bertahan karenanya. Ada faktor lingkungan seperti teman kantor, suasana lingkungan pekerjaan, sampai tetangga dan kantin di sekitar. Segala yang ada tak semuanya memberi kenyamanan bagi para pekerja. Begitupun jika tak ada semua fasilitas pekerjaan menjadi tidak produktif. Kenapa ingin berhenti bekerja? Bekerja itu tak mudah didapat. Sekalipun sudah berhasil mendapatkan sesuai bidangnya, namun dalam ...

Eval Perdana

Yang ada hanya mata yang sayu dengan kepala tertunduk... Tulisan pertama di media buletin kampus, awalnya membuatku sedikit agak merasa bangga. Namaku tercantum dengan lengkap tanpa nim, dan disitu menunjukkan akulah pembuatnya. Ya, mungkin bagi orang awam tahunya itu tulisanku. Murni hanya aku yang membuat. Tapi bagi kalangan persma tentu tahu yang namanya editing dan segala macam perubahan yang dilakukan oleh redpel dan pimrednya.  Dan bagiku hal tersebut tak membuatku agak bangga, tapi masih ada sedikit. Siangnya terbit, malamnya evaluasi. Eval dari selama proses pembuatan media buletin tersebut. Banyak yang dibahas lebih tepatnya banyak yang perlu diperbaiki. Balik lagi karena namaku tercantum sebagai penulis berulang kali ditanya perasaan mengenai hasil tulisan di media tersebut. Ingin rasanya tak usah bercerita, cukup dengan ekspresi saja. Kepala tertunduk melihat banyak kekurangan di tulisan tersebut. Kepala tertunduk karena hasil tulisan belum enak dibaca dan cen...