Langsung ke konten utama

Postingan

Untukmu yang Merasa Masuk Ruang Biasa-Biasa Saja

Bukan dari mana kita berasal, tapi bisa jadi seperti apa di mana pun kita berada Ketika sedang makan, sudah biasa adik saya berceloteh dengan sendirinya panjang lebar. Mulai dari hubungan pertemanannya sampai merembet ujung-ujungnya ke sekolahnya. Adik      : “Si itu kan udah satu geng, si A, si B, si C, sama si D . Udah temenan dari SD, eh masuk SMA juga samaan. Sama-sama masuk SMA yang bagus padahal nilai biasa-biasa aja,” Saya      : “Hust, biarin aja. Bukan dari mana kamu berasal, tapi bisa seperti apa kamu di mana pun berada,” Adik      : “Ih.. kaka ia bagus banget quotenya. Maksudnya gimana tuh?” Saya      : “-__- “ Dari percakapan singkat itu bisa tergambarkan adik saya yang lagi iri sama teman-temannya yang bisa masuk SMA favorit. Maklum sekolahan adik saya letaknya di pinggir sawah. Bukan di kota, benar-benar bukan sekolah incaran. Tahun ajaran baru yang kemarin saja bahkan ...

Lika Liku Laku

Kala itu nyawang surya, kali ini nyawang kowe rabi karo wong liyo Melihat foto di atas jadi teringat, masa di mana belum KKN dan skripsi masih di perantauan. Kala itu, saya sedang ngedit tulisan sendirian di sekre, tapi oleh seorang teman sebut saja Kim Jong Un mengajak saya ke pantai. Sebab saya merasa sendiri, jadi lari dari tugas editor untuk satu hari saya pikir tak masalah. Toh tak ada siapa-siapa yang menuntut. Pikir saya kala itu. Akhirnya 14.30 kami berangkat, tanpa tahu arah, hanya berdua. Jangan baper, sebab dia cuma Jong Un. Bukan soal pergi berduanya yang akan saya bahas, tapi soal laku saya selama ini. Sejak lahir hingga 23 tahun mengenal bumi dan seisinya, tetangga dan sekitarnya, saya belum pernah berpacaran. Ya, menyandang status pacar belum sempat tersematkan dalam diri saya. Teman-teman saya banyak yang bertanya, “Ciye mau taarufan apa?” “Ciye jomblo sampai halal,” “Ciye ngga laku....” ini batal di ciye in. Dan guyonan atau bullyan lainnya ya...

Akrab Karena Bab 4

Mengenalnya empat tahun sebagai pemalas, cukup menilainya satu hari sebagai orang yang rajin. Dia, Intan Alliva Khanza. Sedang mampet mengerjakan Bab 4. Tiba-tiba muncul chat whatsapp ajakan yang berfaedah. Datangnya dari makhluk tercinta bernama Intan Alliva Khanza. Karena namanya terlalu keren, kita sebut saja Alipah. A           : “Besok ngerjain bab4 yuh, jam8.” T           : “Apa kamu bisa bangun pagi?” A           : “Bisa Tri demi bab4.”             Agak meragukan. Sebab selama ini janjian jam10 saja selalu mentok berangkat jam11 siang. Nah ini ngajakinnya jam8 pagi. Tapi ya semoga saja dia kali ini beneran. Dan esok paginya yang ditunggu pun tiba. Jam 6 pagi saya kirim chat. T           : “Bangun Lippp,” A   ...

Memaknai 17-an

Tak hanya perjuangan yang identik dengan kemerdekaan, pun keceriaan ada didalamnya Bangsa Indonesia menghirup udara kebebasan. Kemerdekaan 72 tahun lalu selalu punya cara untuk dimaknai sampai sekarang. Bambu runcing bukan lagi sebagai senjata, tapi keutuhan NKRI harus tetap dijaga, semangat perjuangan akan terus dirasa meski dengan perlombaan yang sederhana. Perlombaan 17 Agustus setiap tahun diadakan untuk mengisi keceriaan di hari kemerdekaan. Apa kaitan perjuangan dengan perlombaan? Sederhana saja, yakni kebersamaan yang akan mencerminkan kerukunan. Karena bangsa yang terdiri dari ragam suku bangsa tak mudah untuk tetap bertahan di tengah-tengah arus modernisasi global. Ya, kita tetap utuh, kita tetap NKRI. Lomba masukan pensil ke dalam botol Refleksi kemerdekaan boleh-boleh saja, dimana selama ratusan tahun bangsa ini terjajah bukanlah hal yang mudah untuk mencapai kemerdekaan. Namun kita tetap harus menatap ke depan, karena estafet perjuangan akan terus dilakukan. ...

Pantai, antara Pertemanan dan Dolan

Hendrik, Lani, Ditya dan Aku Menjadi anak kuliahan di semester 8, rasanya jenuh untuk kampus-sekre-pulang. Satu-satunya obat yang kutahu, beranjak sejenak melepas penat dengan orang-orang kesayangan (Lani, Ditya) yang selanjutnya bakal ditambah Hendrik. Berawal dari ajakan Lani, untuk menemaninya Ke Pantai Karapyak mencari rumput laut. Sempat iya-iya-engga, bahkan sampai h-1 sebelum keberangkatan. Ya, maklum sifat masing-masing dari kami yang memang terkadang sulit disatukan, lebih tepat menjengkalkan malah. Maksudnya yang satu keras kepala, yang satu terlalu pengertian tapi ngga punya ketegasan, yang satu ngga mau basa-basi dengan segala drama yang ada haha. Tapi semua itu terlalui dengan berhasilnya kami bertiga (aku, lani, ditya) berangkat Sabtu (22/5) sore ke Cilacap. Rute pertama menuju mess Hendrik. Sebelum berangkat ke Karapyak, kami akan beristirahat dulu di mess Hendrik sembari nyamper dia yang tau jalannya (Hendrik tau jalan? Itu awal mula pikiran kami bertiga y...

Bahagiaku di Hari Itu

Ketika aku ragu, hampir tak ada senyum apalagi menuju bahagia, disitu aku bersyukur mengenal, berbagi dan ditemani kalian, rekan tersolidku. Tak pernah aku meminta apa pun pada mereka yang saat ini sedang berjuang bersama. Hanya ketika tujuan kami masih sejalan sajalah, kita tetap satu dan sama. Namun, 23 Desember 2016, ijinkan aku menulis berdasarkan asumsi pribadi bukan atas dasar organisasi. Ya, karena kali ini aku ingin mengucapkan terimakasih sebagai teman bukan sebagai rekan. Ketika ada yang rela meluangkan waktunya, menunda kepulangannya untuk mudik ke kampung halaman. Ketika ada yang rela meluangkan waktunya, bersedia membantu dokumentasi yang memang tanpa disiapkan sebelumnya namun ia serius melakukannya. Ketika ada yang rela meluangkan waktunya, rehat dari aktivitas pekerjaan demi hari itu yang hanya sekali barangkali dalam hidupku, hidupmu, dan hidup kalian. Ketika ada yang rela meluangkan waktunya, berangkat sedari pagi dengan angkutan umum demi dan hanya untuk...

Go BMX dan Efeknya

source.net Sinetron dengan tema cinta sudah biasa, namun yang satu ini kisahnya dibarengi dengan atraksi permainan sepeda oleh segerombolan anak muda, menarik untuk dilihat, anak-anak pun jadi ikut-ikutan. Kisahnya si Udin. Anak seorang supir angkot. Jago main sepeda, BMX tepatnya. Bersama teman-temannya ia menjadikan sepeda sebagai aktivitas yang rutin dilakukannya. Bahkan dengan bermain BMX, ia berhasil menjuarai kejuaraan nasional BMX. Begitulah sekelumit cerita Go BMX. Sinetron yang tayang setiap hari di MNCTV ini rupanya menghadirkan nuansa yang berbeda. Trik bermain BMX dengan segala jungkir baliknya menggunakan sepeda, dipadukan dengan kisah cinta klasik tokoh utamanya, ternyata mampu menyedot banyak pemirsa. Terlebih jam tayang di waktu premier membuat sinetron ini hampir ditonton segala usia, tak terkecuali anak-anak. ** Bermain sepeda menjadi salah satu hobi sebagian besar anak-anak. Tak terkecuali saya, zaman SD dulu sering bermain sepeda setiap ada waktu luan...