Langsung ke konten utama

Postingan

Lepas Setahun

Tepat di tanggal hari ini adalah setahun aku berhenti kerja dari seorang marketing di bidang kesehatan. Alasan memilih berhenti yang sudah aku pertimbangkan dengan matang, adalah memilih keluarga. Hasilnya, sebulan aku dihadiahi dengan positif kehamilan. Tapi kenangan itu masih tetap ada, juga pengalaman.  Sempat terpikir ketika masih bekerja dan belum menikah, aku memiliki keinginan untuk menjadi ibu rumah tangga. Rasanya lelah bekerja dari pagi hingga sore, dan baru gajian di akhir bulan membuat pikiran semacam itu terlintas. Aku ingin dinafkahi saja, dan menikmati hasil kerja suami tanpa berusaha sendiri. Hasilnya, pikiran yang hanya sekelebat itu terwujud sudah setahun lamanya.  Semua yang aku bayangkan waktu masih bekerja dulu ternyata jauh dari kenyamanan. Sehari, dua hari, sampai seminggu, rasanya bosan sekali berada di rumah sendirian. Aku bingung hendak melakukan kegiatan apa. Pekerjaan rumah yang tiada habisnya, atau menonton episode drakor yang berganti setiap mingg...

Cerita Munggahan

  Ada yang berbeda dari munggahan tahun ini. Jika tahun lalu masih di tempat kerja, bersama rekan kerja di jam kerja, maka tahun ini tak ada lagi ajakan dari tempat kerja. Aku sudah menjadi ibu rumah tangga selama kurang lebih 7 bulan. Lalu siapa yang akan mengajak aku untuk munggahan atau sekadar ke luar rumah? Jawabannya Suami. “Kita munggahan berdua aja yuk” begitu ajakannya. Sebenarnya ajakan itu juga diawali dari pertanyaanku pada suami yang menanyakan kapan acara munggahan di kantornya. Waktu itu suami jawab belum tau karena belum ada yang mengajak. Aku timpali dengan jawaban, “Sama, aku juga ngga ada yang ngajakin munggahan lagi.” Lalu dijawablah seperti di atas. Selesai obrolan itu, selang beberapa hari suami meminta ijin bahwa teman-temannya mengajak munggahan di Hari Rabu minggu depan. Kenapa meminta ijin padaku? Jawabannya karena acara itu hanya untuk rekan kerja dan tidak diperbolehkan mengajak keluarga. Acaranya juga di sela-sela jam kerja. “Mas udah nanyai...

Temanku Suamiku

  Aku perlu menuliskan ini. Setidaknya untuk mengingat kembali bahwa aku punya teman yang paling setia. Tapi aku sering lupa dan merasa kesepian, hingga suatu hari aku berkata padanya..  "Aku ga punya teman lain selain mas. Setelah aku resign dari pekerjaan, aku ga ada temen ngobrol di saat jam kerja karena mas sedang bekerja, aku menahan 20000 kata yang seharusnya tiap hari aku ucapkan, aku hanya bisa nunggu sampai mas pulang. Aku, aku cuma berteman anime conan, dan ngelive pertandingan badminton, atau nonton drakor dan scroll sosmed. Aku dibekali banyak hiburan, tapi orang sesungguhnya di sampingku ya cuma mas. Kalo mas pulang kerja dan masih sibuk sama balesan wa kerjaan atau ajakan main game dari teman-teman mas, aku jadi ga punya temen buat ngobrol."  Dan lanturan lainnya yang masih panjang terus aku ucapkan sambil berbaring membelakangi mas, dan sesekali menyeka air mata. Mas mendengarkan semuanya, dan di tengah sesenggukanku mas memelukku dari belakang sambil beruc...

Baru

  Selamat datang di kontrakan baru! Awal bulan ini kami memilih pindah tempat tinggal. Setelah kurang lebih lima bulan di kontrakan yang lama, kami memutuskan butuh tempat tinggal yang sedikit lebih lega. Setidaknya agar aku bisa belajar masak. Karena ketika di kontrakan yang lama, aku sama sekali tidak pernah di depan kompor. Kompor satu tungku yang dibawa jauh-jauh dari kampung, tiap hari hanya aku pandangi tanpa pernah dipasang tabung gas. Hasilnya, aku dan suami selalu beli makanan di luar. Boros? Pasti. Tapi, kami melakukan itu memang karena kontrakan lama hanya satu petak, sehingga tidak cukup jika dipasang kompor. Sekalinya memasak, itu pun hanya memasak nasi atau sop yang bisa menggunakan magic com. Kontrakannya yang terlalu kecil, atau mungkin memang aku dan suami yang tak pandai menata tempat? Pada akhirnya, di sini kontrakan kedua yang aku tempati bersama suami. Kami memilih jauh dari pusat kota. Sebuah rumah dari pemilik warung makan di dekat tempat kerja suami ...

Sembilan Hari

Rabu, 09.08.23 Sembilan hari sudah aku berhenti dari pekerjaan. Aku memutuskan untuk berhenti bekerja demi lebih dekat dengan suami. Perjalanan berangkat kerja dari jam 5 subuh dan pulang jam 9 malam, menyita waktu lebih banyak di luar ketimbang di rumah. Selepas menikah, hampir-hampir aku tidak punya waktu untuk mengurus urusan rumah tangga. Lebih banyak suami yang mengerjakan. Mulai dari mencuci baju, mencuci piring, membereskan rumah, hingga menyiapkan makanan, suami lebih sering mengerjakan atas dasar keinginannya. Suami takut, kalau aku sampai jatuh sakit karena bolak balik perjalanan yang cukup jauh. Kondisi seperti itu tak berjalan lama. Kurang lebih hanya dua setengah bulan pasca menikah aku berhenti dari pekerjaan. Tentunya, setiap keputusan pasti ada yang harus dikorbankan. Bila ditanya, apakah rindu akan pekerjaan? Apakah ingin kembali menjadi wanita karir? Apakah ingin bisa menghasilkan uang sendiri? Jawabannya iya dan tidak. Iya karena aku ingin menjadi wanita y...

Selamat Hari Pernikahan Sebulan!

  Selamat satu bulan lebih sehari suami aku! Walau pertemuan kita diawali dengan LDR dan pernikahan kita dijalani dengan LDM dua hari sekali, moga langgengnya sampai selama lamanyaaa.  Jangan pernah lelah anter jemput di stasiun Pwk dan Krw. Tempat yang jadi awal mula kita bertemu dan menjadi saksi kita bertamu tiap hari minggu. Tapi sekarang, menjadi tempat tujuan rutinitas tiap berangkat kerja.  Tetap tersenyum dan haha hihi dalam menjalani kehidupan suami istri. Tetep penuh tawa walau kita masih bingung mau tinggal di mana. Tetap penuh syukur karena obrolan kita selalu akur.  Jangan bosen walau teman berdiskusi dan berkisah kasih cuma sama istri lagi istri terus. Tetap kalem ketika di luar tapi begitu endel ketika di dalem rumah. Tetap bernyanyi riang gembira walau suara sama-sama tak enak didengar tapi rasa selalu tersampaikan.  Tetap ngga apa-apa menjadi WIBU, karena yang penting mencintai istrimu menjadi satu satunya tujuan suamiku.  Terima kasih suda...

Setahun

Menutup akhir tahun dengan posisi baru, ketika awal tahun dengan pekerjaan baru. Semoga bergantinya tahun segera menuju status baru. Ketika tulisanku mewujud doa. Dua tahun lalu, aku yang jobless hanya menginginkan kerja. Dan awal tahun sudah mewujud nyata.  Singkat cerita, setahun di tempat kerja berpindah ke posisi berbeda. Dengan jobdes yang bertambah, namun tetap di tempat yang sama. Dari perkenalan menuju bertahan. Dari belajar menuju berkembang. Meski aku terkadang lamban, tapi kemauan untuk sejajar selalu aku usahakan.  Satu dua kali mengeluh tentang kerjaan. Dua tiga dan lebih berkali-kali menikmati pekerjaan.  Jika tahun ini masih dalam penyesuaian, menata tahun depan dengan target yang sudah ditetapkan. Setahunku tak hanya soal kerjaan. Ternyata 2021 juga menyediakan ruang perasaan. Untuk seseorang yang kukenal setahun ini juga, kabarnya sebentar lagi akan datang.  Ah, andai ini roman picisan. Berlarut-larut akan terbawa perasaan. Lain kali akan aku ceritak...

Aku Lega

dokumentasi yahya Tahu ngga, apa yang senang dari sebuah percakapan menjelang tidur malam?  Bahwa didengarkan dan mendengarkan adalah dua aktivitas yang melegakan.  Semalam, aku sedang lelah. Bukan karena pekerjaan apalagi karena kamu, jelas bukan. Tapi, karena kepikiran terus menerus tentang sakitnya keluarga di rumah. Ragaku jauh di sini merantau untuk bekerja, tapi pikiranku jauh tertinggal bersama ibu, adek-adek, dan bapa di rumah.  Sedangkan kamu, jauh di sana ada untuk mendengarkan dan didengarkan. Aku lega. Seketika lelahku berkurang.  Kupikir mematikan paket data bisa jadi solusi agar pikiranku beristirahat. Tak tahu kondisi di rumah, tak tahu kabar apa-apa di rumah.  Tapi ternyata aku keliru. Tetap terhubung dan hadapi masalah adalah satu-satunya cara yang harus tetap kutempuh. Dan kau hadir di sana menjadi telingaku, menjadi rinduku.  Aku lega.  Semalam percakapan mengalir begitu saja. Tiba-tiba aku berkata,  "Bentar lagi ramadan," ...

Desember

Kesempatan itu terlewat pada awal tahun, tapi datang di waktu yang tepat. Rangkuman perjalanan selama setahun, dari mulai gagal, kembali rebahan, rajin kumpulan, berakhir pada meninggalkan kampung halaman..  Kembali lolos verfikasi berkas. Kedua kalinya mengikuti tes kompetensi dasar.  Tahun ini lebih siap. Waktu nganggur kugunakan untuk belajar latihan soal.  Singkat cerita, targetku peringkat pertama, tapi meleset peringkat ke empat. Gagal kedua kalinya.  Kembali rebahan.  Tapi, rebahan bukan semata-mata karena aku pengangguran, rebahan dibarengi pandemi melanda. Corona.  Masih di bulan ketiga.  Rebahanku tak bertahan lama. Para pelopor desa inisiatif untuk bantu sesama. Caranya dengan berbagi secara swadaya.  Rutin kumpulan di beberapa malam. Rutin menyalurkan bantuan warga di setiap minggunya. Hampir tiga bulan lamanya. Berhenti sejenak pada lebaran.  Lanjut ke agenda berikutnya, bertepatan aku mendapat panggilan pekerjaan.  Tanpa be...

Aku dan Motivasi Aku

Salah seorang teman menyarankan, "Kamu udah pernah daftar sana sini, coba tulis pengalamannya, kali aja jadi referensi buat yang baca."  "Masalahnya aku belum ada yang diterima, apanya yang ditulis? Kegagalan kegagalan dan gagal?," kataku.  "Loh engga, kan sebelum gagal ada prosesnya. Nah prosesnya yang ditulis," katanya. Percakapan dua tahun lalu. Ketika lulus kuliah baru hitungan bulan. Hm tapi belum sampai setahun.  Awalnya kupikir temanku hanya berseloroh. Tapi dipikir-pikir lagi ada benarnya. Kali aja tulisan kegagalan hari ini bisa jadi from this to this untuk keberhasilan hari esok.  Sampai pada panggilan kerja yang ke sekian yang kupikir sudah pasti diterima, ternyata belum bernasib serupa, akhirnya kuurungkan mengupload tulisan. Masih belum berani.  Setahun berlalu.  Kusudah buat rangkuman perjalanan menjadi job seeker. Ketika mau upload, baru sampai draft, eh batal.  Dan pada akhirnya.  Ada seorang teman yang meyakinkan. Bukan soal uploa...

Babak Baru Pandemi Corona, New Normal

(Selasa,9/6) - Memasuki minggu kedua Bulan Juni, masyarakat mulai terbiasa memakai masker. Entah karena keterpaksaan namun banyak juga yang atas dasar kesadaran. Aktivitas di beberapa tempat mulai kembali ramai, meski dengan atribut masker yang harus selalu menempel di wajah jika sedang berada di luar ruangan.  Sudah tiga bulan lebih lamanya, masyarakat dihadang covid-19. Tidak dipungkiri, pemerintah lamban dalam penanganan, menyebabkan beberapa masyarakat menganggap enteng virus yang bisa sembuh dengan sendirinya ini.  Pemerintah adalah cerminan dari rakyatnya, begitu kira-kira. Jika pemerintah baru bertindak ketika ada satu kasus positif yang mencuat, masyakat pun baru waspada ketika sudah ribuan nyawa jadi korban. Saat ini, belum beres pemerintah menyediakan fasilitas kesehatan untuk para pasien corona, pemerintah sudah menggagas new normal sejak awal Juni. Meski tidak semua daerah bakal memberlakukan kebijakan ini, sebab pemerintah sendiri masih berhati-hati untuk memulai ...

Pandemi Memunculkan Sifat Saling Peduli

(Jumat, 5/6)-Setiap hari di media massa dipenuhi berita tentang wabah covid-19. Bukan hanya di Indonesia, melainkan di seluruh dunia. Ya, dunia sedang dirundung duka. Banyak korban berjatuhan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Virus ini tak memandang usia. Suatu keprihatinan yang membuat segalanya yang menjadi kebiasaan harus berubah. Mulai dari bekerja dari rumah, sekolah dari rumah, pembatasan naik kendaraan umum, dan masih banyak kebiasaan atau rutinitas yang perlahan-lahan tergantikan dengan kebiasaan dan rutinitas yang baru.  Mari sejenak kita melihat wabah ini dari sisi yang positif. Bukan kaitannya dengan virus ini berdampak positif, tapi ada sisi lain yang bisa menjadi teladan semenjak adanya wabah covid-19 ini.  Berita tentang jumlah korban menjadi hal yang biasa, setiap hari masih memenuhi headline pemberitaan. Di sisi lain, berita dari segi humanisme juga mulai ramai di pemberitaan. Ya, tentang semangat berbagi.  Berbagi bagi sebagian orang barangkali m...

Rencana Pembukaan Sekolah Kembali Menuai Pro dan Kontra

Jakarta (5/6), Berbagai kabar beredar bahwa Kemendikbud akan membuka sekolah kembali pada bulan Juli nanti. Banyak pihak menilai, rencana tersebut kurang tepat, mengingat wabah covid-19 belum juga reda. Jika kebijakan tersebut diterapkan tentu akan menuai pro dan kontra dari tenaga pendidik, siswa, maupun orang tua siswa. Kebijakan membuka kembali sekolah di tengah pandemi cukup beresiko, mengingat anak-anak juga salah satu yang rentan terkena covid-19.  Dalam kesempatannya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengatakan, Kemendikbud belum berencana akan membuka sekolah kembali dalam waktu dekat. Butuh analisis dari berbagai pihak jika kebijakan itu akan diterapkan. Untuk meyakinkan bahwa sekolah belum akan dibuka dalam waktu dekat, Nadiem justru mengeluarkan surat edaran mengenai pembelajaran dari rumah.   Rencana pembukaan sekolah kembali pun menuai perhatian dari beberapa pemerhati pendidikan. Banyak diskusi yang mengungkapkan bahwa pemerintah menjadi tidak tra...

Solat Jumat Mulai Kembali Dilaksanakan

Banyumas (5/ 6) , Sejumlah wilayah di beberapa daerah mulai melaksanakan kembali ibadah Solat Jumat pada minggu ini. Termasuk salah satunya di wilayah Banyumas, Jawa Tengah. Solat Jumat dilaksanakan di beberapa masjid dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan, seperti memakai masker, mencuci tangan sebelum masuk ke masjid, dan menghimbau agar membawa sajadah sendiri bagi masing-masing jamaah.  Salah satu masjid yang menyelenggarakan ibadah Solat Jumat, adalah Masjid Nur Amanah yang terletak di Kelurahan Karangklesem, Purwokerto, Kabupaten Banyumas. Menurut salah satu jamaah, sudah hampir dua bulan lebih masyarakat memang mematuhi anjuran pemerintah tidak melaksanakan Solat Jumat. Pembukaan kembali masjid pun disambut antusias oleh beberapa jamaah di wilayah tersebut.    “Nggak apa-apa solat pake masker yang penting sudah bisa beribadah wajib di masjid lagi,” kata Teguh salah satu jamaah.  Petugas takmir masjid pun tetap mematuhi anjuran pemerintah khususnya pemeri...

Cerita Lulus Bukan Karena Corona

Dapat hadiah tabungan pendidikan Adikku, yang dulu minder karena masuk SMA di pinggiran kota, tengah sawah, bukan unggulan, kali ini lulus SMA bukan karena corona. Dia membayar tuntas tiga tahun sekolah di sana, sebelum pengumuman kelulusan sudah diterima di dua perguruan tinggi, bukan hanya itu, karena rajin mengikuti sekolah online, tahu-tahu dapat hadiah pula. Akhir yang manis menuju awal yang indah. Dulu, awal SMA dia selalu mengeluh karena menurutnya 'terbuang' di SMA pinggiran. Tidak seperti teman-teman SMP nya yang masuk sekolah di perkotaan. Dia menyesal kenapa nilai UN tak memenuhi standar masuk SMA pilihannya. Dia murung setiap ditanya asal SMA, dia selalu pake jaket untuk menutupi almamater SMA nya. Tapi aku memotivasinya dengan sedikit bualan di  tulisan ini Tak disangka, adikku pendengar yang baik. Kataku kala itu, bukan dari mana kamu berasal tapi bisa jadi seperti apa di mana pun tempatnya. Ya, dia memang pendengar yang baik dan tidak menyia-nyiakan ...

Mas Ustad

Saya pernah menyukai seorang yang biasa dipanggil ustad, tapi lebih cocok dipanggil mas ustad karena usianya yang masih sangat muda. Karena bapanya pendakwah jadilah dipanggil 'anaknya ustad'. Makanya dia sekarang ikut-ikutan mendapat panggilan ustad. Begitulah kira-kira.  Tapi bukan soal jenis panggilan yang dibahas.  Waktu itu bulan puasa. Minggu pertama di bulan puasa, dia mengisi tausiyah kuliah subuh di musola tempat saya beribadah. Saya masih ingat betul tausiyah yang disampaikannya yakni tentang bersyukur selepas sholat.  "Sebelum kita mengucap istighfar lebih baik kata pertama yang kita ucapkan adalah alhamdulillah..."  Begitu kira-kira yang disampaikannya. Dia melanjutkan, "Sebelum kita memohon ampun atas dosa-dosa kita, alangkah baiknya mengucap syukur karena masih diberi nafas untuk beribadah, untuk berdoa, untuk memohon ampun, dan meminta segala sesuatu."  Sepertinya begitu intinya.   Sambil melongok ke shaf ...

Tidak Apa Apa Ada Apa Apa

Tidak apa apa jika sedang banyak apa apa Kadang apa apa juga bukan karena apa apa Memang tidak apa apa jika tidak bisa berkata apa apa Sulit untuk tidak apa apa Tapi apa apa juga untuk apa? Terlalu banyak apa sehingga menjadi tidak apa apa Selalu saja tidak apa apa Semua yang apa apa dibiarkan tidak apa apa Paling paling dijawab yasudah iya tidak apa apa Padahal aslinya pura pura tidak apa apa Tapi apa yang tidak perlu apa apa? Jika semuanya saja dianggap tidak apa apa Menjadi tidak apa apa bukan berarti tak ada apa apa

Review Buku Yang Fana adalah Waktu

Judul Buku : Yang Fana Adalah Waktu Penulis : Sapardi Djoko Damono Tahun Terbit: 2018 Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta Tebal : 146 halaman ISBN : 978-602-03-8305-7 Genre : Fiksi Pernah menjalani hubungan jarak jauh atau Long Distance Relationship ? Bagaimana rasa rindunya? Bagaimana penantiannya? Bagaimana rasa saling percaya yang ditumbuhkan? Begitu pun bagaimana menjaga hati agar tetap setia? Barangkali novel ketiga dari Trilogi Hujan Bulan Juni milik Sapardi Djoko Damono bisa menggambarkannya. Sinopsis Berkisah tentang Sarwono yang ditinggal pergi kekasihnya Pingkan, untuk menempuh pendidikan di Jepang. Mereka menjalani hubungan jarak jauh Solo-Kyoto Jepang, tapi tetap saling kirim kabar. Hingga suatu hari kepercayaan diantara keduanya sempat pudar, sebab ada orang ketiga yang membuatnya nyaman. Hal yang paling sulit dari hubungan jarak jauh adalah menjaga perasaan. Masing-masing dari mereka paham betul hati mereka tertuju pada siapa. Tapi, y...

Ditya Menikah

Foto diambil sekitar jam 9 malam, udah pada pulang :( Aku bingung mau ngomong apa. Jangankan ngucapin selamat, pertama ketemu malah langsung peluk erat.  Tau apa yang diucap? Ngga ada. Kami cuma saling tangis. Beberapa detik, hitungan menit. Di tengah tarub antara pondokan dan meja buku tamu.  Tadinya udah nyiapin rentetan permintaan maaf karena datang telat, dan rapalan doa untuk kehidupannya setelah menikah. Tapi, kata-kata itu tertelan di tenggorokan dan berganti dengan sesenggukan.  Sungguh, bego pake banget. Temenku menikah, dan aku datang tanpa mengucap selamat, apalagi maaf karena dateng paling telat.  Sekali lagi ya Dit, aku bingung mau ngomong apa.  Rasanya masih ngga percaya, temen yang paling julid tiap tengah malem kalo wa ku masih online pasti ditanya, "Kamu si ngapain jam segini belum tidur?"  Atau "Kamu lagi chatan sama siapa jam segini belum tidur?"  Rasanya masih ngga percaya, temen yang punyai golon...