Langsung ke konten utama

Mengesampingkan Kepentingan Pribadi “susah”


Hidup itu tak selamanya milik sendiri, sering kita berinteraksi dengan orang lain. Itu yang namanya hidup.

Sejujurnya prioritas kita akan mengarah pada diri sendiri. Artinya segala sesuatu yang berkaitan dengan diri kita akan lebih didahulukan ketimbang sesuatu itu berhubungan dengan orang lain. Itu hal yang normal sebagai perasaan yang dimiliki masing-masing individu.

Eitzzz.. seperti yang dibahas diawal, hidup itu artinya interaksi, dan untuk itu kita diajarkan untuk berbagi dengan orang lain. Berbagi uang, berbagi tempat tinggal, berbagi pekerjaan, berbagi masalah justru yang paling sering.

Kita juga diajarkan untuk mengesampingkan urusan pribadi kita dan harus mendahulukan kepentingan umum. Artinya kita disuruh untuk melupakan masalah atau keperluan diri kita, kemudian kita dahulukan segala sesuatu yang berkaitan dengan orang lain. Itulah hal yang sewajarnya jika kita tinggal di negara ini.

Tidak semua menganggap kepentingan orang lain harus didahulukan.
Tapi alangkah lebih baik karena hal itu sudah menjadi kebiasaan yang sewajarnya jadi hal itu perlu dilakukan.
Rasanya mendahulukan kepentingan umum tak selamanya hal itu mudah untuk dilakukan. Di saat-saat tertentu pasti kita pernah dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama berat. Harus memilih antara kepentingan orang banyak atau kepentingan diri kita yang juga tidak kalah genting.

Menyeimbangkan dua kepentingan ini memang tidak mudah.
Jika ingin menjadi orang yang ramah maka dahulukan kepentingan umum. 
Jika ingin menjadi orang yang tidak peduli, dahulukan kepentingan pribadi.
Pilihan selanjutnya tergantung pada pribadi masing-masing.


Silakan J

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Buku Yang Fana adalah Waktu

Judul Buku : Yang Fana Adalah Waktu Penulis : Sapardi Djoko Damono Tahun Terbit: 2018 Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta Tebal : 146 halaman ISBN : 978-602-03-8305-7 Genre : Fiksi Pernah menjalani hubungan jarak jauh atau Long Distance Relationship ? Bagaimana rasa rindunya? Bagaimana penantiannya? Bagaimana rasa saling percaya yang ditumbuhkan? Begitu pun bagaimana menjaga hati agar tetap setia? Barangkali novel ketiga dari Trilogi Hujan Bulan Juni milik Sapardi Djoko Damono bisa menggambarkannya. Sinopsis Berkisah tentang Sarwono yang ditinggal pergi kekasihnya Pingkan, untuk menempuh pendidikan di Jepang. Mereka menjalani hubungan jarak jauh Solo-Kyoto Jepang, tapi tetap saling kirim kabar. Hingga suatu hari kepercayaan diantara keduanya sempat pudar, sebab ada orang ketiga yang membuatnya nyaman. Hal yang paling sulit dari hubungan jarak jauh adalah menjaga perasaan. Masing-masing dari mereka paham betul hati mereka tertuju pada siapa. Tapi, y...

Baalveer: antara dongeng dan modernitas

source.net Dengan memanggil namanya, dia akan datang untuk menyelamatkan. Dengan melihatnya di tv, dia muncul bak superhero abad 20 yang begitu terkenal. Julukannya ‘pahlawan penyelamat anak-anak’. Serial India sedang membanjiri tanah air. Dimulai dari film, sinetron, hingga artis dari negeri Bollywood itu dicintai tayang di Indonesia. Hampir setiap tv terdapat tayangan yang berasal dari India. Salah satu serial drama yang saat ini hadir setiap hari di tv (sebut saja antv) menjadi salah satu tayangan favorit anak-anak. Baalveer, seorang anak yang terlahir dari peri bernama Baal Peri menjadi sosok yang paling dicintai anak-anak. Dengan baju berwarna oren, berselendang merah, serta tongkat sakti sebagai senjatanya, membuat dia dijuluki pahlawan bagi anak-anak. Di sela-sela pekerjaannya menyelamatkan anak-anak, dia pun sering muncul di tv. Mengapa Baalveer di tv? Beberapa episode Baalveer, ia sering tampil untuk mengklarifikasi segala hal yang berkaitan dengan anak-anak. Ter...

Lepas Setahun

Tepat di tanggal hari ini adalah setahun aku berhenti kerja dari seorang marketing di bidang kesehatan. Alasan memilih berhenti yang sudah aku pertimbangkan dengan matang, adalah memilih keluarga. Hasilnya, sebulan aku dihadiahi dengan positif kehamilan. Tapi kenangan itu masih tetap ada, juga pengalaman.  Sempat terpikir ketika masih bekerja dan belum menikah, aku memiliki keinginan untuk menjadi ibu rumah tangga. Rasanya lelah bekerja dari pagi hingga sore, dan baru gajian di akhir bulan membuat pikiran semacam itu terlintas. Aku ingin dinafkahi saja, dan menikmati hasil kerja suami tanpa berusaha sendiri. Hasilnya, pikiran yang hanya sekelebat itu terwujud sudah setahun lamanya.  Semua yang aku bayangkan waktu masih bekerja dulu ternyata jauh dari kenyamanan. Sehari, dua hari, sampai seminggu, rasanya bosan sekali berada di rumah sendirian. Aku bingung hendak melakukan kegiatan apa. Pekerjaan rumah yang tiada habisnya, atau menonton episode drakor yang berganti setiap mingg...