Langsung ke konten utama

Merindukan Sosok Pemimpin


Mungkin aku terlalu bergantung pada orang lain.
Mungkin aku belum bisa mandiri.
Mungkin aku terlalu takut untuk melangkah sendiri.
Atau mungkin aku terlalu manja meminta bantuan sana-sini.

Terlalu banyak keraguan dalam hati hingga mempengaruhi langkahku untuk bergerak maju. Kaki ini tertahan di zona yang itu-itu saja. Pikiran ini terbatas oleh pemikiran yang biasa-biasa saja.

Aku masih menjadi follower, belum mampu menjadi leader. Aku masih sebatas menuruti semua arahan, semua perintah, belum mampu menciptakan sejarah.
Aku memang bukan siapa-siapa, mungkin tak akan menjadi apa-apa. Bukan maksud rendah diri, hanya saja mencoba untuk lebih realistis memandang diri.

Aku tak ingin seperti ini. Berkali-kali aku berlatih namun belum membuahkan hasil. Selangkah lebih maju memang, namun masih tertinggal jauh dari yang lain.

Di saat negeri ini merindukan sosok pemimpin, aku justru kehilangan jati diri sebagai pemimpin muda. Tak ada niat memimpin, tak ada ide terpikir, tak ada tindakan terealisir.
Banyak orang yang hanya bisa mengkritik pemimpin, namun dirinya sendiri tak pernah mau ditunjuk untuk memimpin. Aku tak mau seperti itu. Aku sudah menjadi penakut, maka aku tak mau menjadi kritikus.

Aku ingin belajar, aku mau melatih diri. Melihat sosok pemimpin memang menyenangkan, memandangnya dan mempelajari gerak-gerik dan pemikirannya. Pemikiran seorang pemimpin yang ambisius sangat memotivasi pengikutnya menjadi contoh yang patut ditiru.

Jika dalam pemerintahan ada partai penguasa dan partai oposisi, dalam kepemimpinan juga harus demikian agar ada yang mengawasi. Agaknya aku belum mampu berada di kedua posisi itu, pemimpin atau pengawas. 

Aku ingin belajar kedua-duanya, terlebih sebagai seorang pemimpin.
Dalam belajar aku butuh bimbingan, butuh diawasi dan butuh bantuan. Bukannya ingin menjadi sosok yang manja, namun dalam melatih diri perlu semua komponen itu.

Tapi, mungkin saja itu semua tidak benar. Ada yang memang sudah memiliki jiwa pemimpin sehingga dia berani walau menghadapi hal baru atau hal sesulit apa pun. Orang yang memiliki keberanian seperti itu layak untuk menjadi pemimpin.

Dalam waktu dekat negeri ini akan memilih pemimpin baru. Mungkin rakyatnya sudah bosan melihat pemimpin yang itu-itu saja, yang jadinya begini-begini saja. Mungkin rakyat merasa tak ada perubahan berarti selama negeri ini berganti pemimpin berkali-kali. Mungkin rakyat sudah jenuh memiliki pemimpin yang bisa saja belum mampu memimpin dirinya sendiri. Mungkin rakyat masih mau memilih sebatas formalitas saja. Ah, memalukan.

Semoga tidak semua rakyat berpikiran sama seperti itu.
Hanya saja aku dan semua orang sama, merindukan sosok pemimpin. Pemimpin yang seperti apa? Pemimpin yang bagaimana? Banyak jawaban dari pertanyaan ini. Maklum kita ini terdiri dari ratusan juta jiwa untuk menyatukan pandangan pasti susah. Kita diberi pemimpin yang seperti apa pun, pasti kita pintar mencari celah untuk mencelanya. Padahal jika kita ditunjuk untuk menjadi pemimpin, pasti kita akan bersembunyi.
Jangan seperti itu, belajarlah untuk menjadi pemimpin.

Jika kita belum mampu memimpin orang lain, mulailah dengan belajar memimpin diri kita sendiri. Semoga dengan begitu tergerak hati kita untuk mencalonkan diri menjadi seorang pemimpin.

Aku merindukan sosok pemimpin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Buku Yang Fana adalah Waktu

Judul Buku : Yang Fana Adalah Waktu Penulis : Sapardi Djoko Damono Tahun Terbit: 2018 Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta Tebal : 146 halaman ISBN : 978-602-03-8305-7 Genre : Fiksi Pernah menjalani hubungan jarak jauh atau Long Distance Relationship ? Bagaimana rasa rindunya? Bagaimana penantiannya? Bagaimana rasa saling percaya yang ditumbuhkan? Begitu pun bagaimana menjaga hati agar tetap setia? Barangkali novel ketiga dari Trilogi Hujan Bulan Juni milik Sapardi Djoko Damono bisa menggambarkannya. Sinopsis Berkisah tentang Sarwono yang ditinggal pergi kekasihnya Pingkan, untuk menempuh pendidikan di Jepang. Mereka menjalani hubungan jarak jauh Solo-Kyoto Jepang, tapi tetap saling kirim kabar. Hingga suatu hari kepercayaan diantara keduanya sempat pudar, sebab ada orang ketiga yang membuatnya nyaman. Hal yang paling sulit dari hubungan jarak jauh adalah menjaga perasaan. Masing-masing dari mereka paham betul hati mereka tertuju pada siapa. Tapi, y...

Baalveer: antara dongeng dan modernitas

source.net Dengan memanggil namanya, dia akan datang untuk menyelamatkan. Dengan melihatnya di tv, dia muncul bak superhero abad 20 yang begitu terkenal. Julukannya ‘pahlawan penyelamat anak-anak’. Serial India sedang membanjiri tanah air. Dimulai dari film, sinetron, hingga artis dari negeri Bollywood itu dicintai tayang di Indonesia. Hampir setiap tv terdapat tayangan yang berasal dari India. Salah satu serial drama yang saat ini hadir setiap hari di tv (sebut saja antv) menjadi salah satu tayangan favorit anak-anak. Baalveer, seorang anak yang terlahir dari peri bernama Baal Peri menjadi sosok yang paling dicintai anak-anak. Dengan baju berwarna oren, berselendang merah, serta tongkat sakti sebagai senjatanya, membuat dia dijuluki pahlawan bagi anak-anak. Di sela-sela pekerjaannya menyelamatkan anak-anak, dia pun sering muncul di tv. Mengapa Baalveer di tv? Beberapa episode Baalveer, ia sering tampil untuk mengklarifikasi segala hal yang berkaitan dengan anak-anak. Ter...

Lepas Setahun

Tepat di tanggal hari ini adalah setahun aku berhenti kerja dari seorang marketing di bidang kesehatan. Alasan memilih berhenti yang sudah aku pertimbangkan dengan matang, adalah memilih keluarga. Hasilnya, sebulan aku dihadiahi dengan positif kehamilan. Tapi kenangan itu masih tetap ada, juga pengalaman.  Sempat terpikir ketika masih bekerja dan belum menikah, aku memiliki keinginan untuk menjadi ibu rumah tangga. Rasanya lelah bekerja dari pagi hingga sore, dan baru gajian di akhir bulan membuat pikiran semacam itu terlintas. Aku ingin dinafkahi saja, dan menikmati hasil kerja suami tanpa berusaha sendiri. Hasilnya, pikiran yang hanya sekelebat itu terwujud sudah setahun lamanya.  Semua yang aku bayangkan waktu masih bekerja dulu ternyata jauh dari kenyamanan. Sehari, dua hari, sampai seminggu, rasanya bosan sekali berada di rumah sendirian. Aku bingung hendak melakukan kegiatan apa. Pekerjaan rumah yang tiada habisnya, atau menonton episode drakor yang berganti setiap mingg...