Langsung ke konten utama

Menulis di pagi hari


Iyaap... selamat pagi!!!
Nyanyian burung yang merdu menemani sinar mentari mengawali langkahmu hari ini. Waah.. cerahnya udara pagi ini.

Tapi posisi ini masih di dalam kamar, baru bangun dan baru mau mandi. Selesai bersih-bersih diri langsung cusss berangkat.

Ternyata yang menemani langkah kaki ini bukannya nyanyian burung, tapi suara kendaraan roda dua, roda empat, dan banyak roda lain yang asapnya mengepul ketika di jalan raya. Memakai masker sebagai pelindung hidung dari asap pekat yang keluar dari kendaraan bisa sedikit membantu.
Tak butuh waktu lama sampailah di sekolah, kampus ataupun tempat kerja. Di sana langsung berkonsentrasi terhadap apa yang di depan mata.

Kali ini tujuan langkah kaki ini ke kampus. Pagi ini hal yang paling membuat orang malas, ketika sampai di kampus jam 7 pagi ternyata kelas kosong. Sedihnya lagi, pemberitahuan baru diterima setelah kaki ini tepat sampai di depan ruang kuliah. Oh rasanya ekspresi ini bisa digambarkan dengan emoticon strip-strip-strip.

Daripada di kampus sambil ditemani wifi itu adalah hal yang sering dilakukan, mending ke kos teman setidaknya ada teman ngobrol dan bisa mengurangi rasa kecewa ini.

Ini masih pagi, jam baru menunjukkan pukul 8 waktu setempat.
Rasanya malas sekali, semangat yang sudah terkumpul ini harus terbuang. Harus disimpan, untuk jam kuliah berikutnya yang waktunya menunjukkan jam12.

Yah akhirnya pagi ini hanya diisi dengan menunggu jam kuliah di kos teman.
Tak begitu spesial, terlalu biasa. Namun setidaknya dari waktu tunggu ini ada hal yang tak terbuang sia-sia. Jeda waktu yang cukup lama ini gunakanlah untuk menulis.

Menulis apapun hal yang kalian pikirkan. Tak akan rugi jika kalian menulis untuk hari ini dan esok hari. Tak akan berkurang ide kalian selama kalian masih memiliki keinginan untuk menulis.
Yang ada hari ini akan lebih bermakna dari hari kemarin jika kalian selalu sempatkan waktu untuk menulis.

Selamat pagi dan selamat beraktivitas J



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Buku Yang Fana adalah Waktu

Judul Buku : Yang Fana Adalah Waktu Penulis : Sapardi Djoko Damono Tahun Terbit: 2018 Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta Tebal : 146 halaman ISBN : 978-602-03-8305-7 Genre : Fiksi Pernah menjalani hubungan jarak jauh atau Long Distance Relationship ? Bagaimana rasa rindunya? Bagaimana penantiannya? Bagaimana rasa saling percaya yang ditumbuhkan? Begitu pun bagaimana menjaga hati agar tetap setia? Barangkali novel ketiga dari Trilogi Hujan Bulan Juni milik Sapardi Djoko Damono bisa menggambarkannya. Sinopsis Berkisah tentang Sarwono yang ditinggal pergi kekasihnya Pingkan, untuk menempuh pendidikan di Jepang. Mereka menjalani hubungan jarak jauh Solo-Kyoto Jepang, tapi tetap saling kirim kabar. Hingga suatu hari kepercayaan diantara keduanya sempat pudar, sebab ada orang ketiga yang membuatnya nyaman. Hal yang paling sulit dari hubungan jarak jauh adalah menjaga perasaan. Masing-masing dari mereka paham betul hati mereka tertuju pada siapa. Tapi, y...

Baalveer: antara dongeng dan modernitas

source.net Dengan memanggil namanya, dia akan datang untuk menyelamatkan. Dengan melihatnya di tv, dia muncul bak superhero abad 20 yang begitu terkenal. Julukannya ‘pahlawan penyelamat anak-anak’. Serial India sedang membanjiri tanah air. Dimulai dari film, sinetron, hingga artis dari negeri Bollywood itu dicintai tayang di Indonesia. Hampir setiap tv terdapat tayangan yang berasal dari India. Salah satu serial drama yang saat ini hadir setiap hari di tv (sebut saja antv) menjadi salah satu tayangan favorit anak-anak. Baalveer, seorang anak yang terlahir dari peri bernama Baal Peri menjadi sosok yang paling dicintai anak-anak. Dengan baju berwarna oren, berselendang merah, serta tongkat sakti sebagai senjatanya, membuat dia dijuluki pahlawan bagi anak-anak. Di sela-sela pekerjaannya menyelamatkan anak-anak, dia pun sering muncul di tv. Mengapa Baalveer di tv? Beberapa episode Baalveer, ia sering tampil untuk mengklarifikasi segala hal yang berkaitan dengan anak-anak. Ter...

Lepas Setahun

Tepat di tanggal hari ini adalah setahun aku berhenti kerja dari seorang marketing di bidang kesehatan. Alasan memilih berhenti yang sudah aku pertimbangkan dengan matang, adalah memilih keluarga. Hasilnya, sebulan aku dihadiahi dengan positif kehamilan. Tapi kenangan itu masih tetap ada, juga pengalaman.  Sempat terpikir ketika masih bekerja dan belum menikah, aku memiliki keinginan untuk menjadi ibu rumah tangga. Rasanya lelah bekerja dari pagi hingga sore, dan baru gajian di akhir bulan membuat pikiran semacam itu terlintas. Aku ingin dinafkahi saja, dan menikmati hasil kerja suami tanpa berusaha sendiri. Hasilnya, pikiran yang hanya sekelebat itu terwujud sudah setahun lamanya.  Semua yang aku bayangkan waktu masih bekerja dulu ternyata jauh dari kenyamanan. Sehari, dua hari, sampai seminggu, rasanya bosan sekali berada di rumah sendirian. Aku bingung hendak melakukan kegiatan apa. Pekerjaan rumah yang tiada habisnya, atau menonton episode drakor yang berganti setiap mingg...